Our Specialist Team is here to answer your questions. Ask us anything!

MENGAPA MILLENIAL COCOK BEKERJA DI PR AGENCY?

MENGAPA MILLENIAL COCOK BEKERJA DI PR AGENCY?

Boss : You all, Jump ! X-Gen : Yes, Sir (and they jump) Millenial : Ok, Sir but what next after we jump? Boss : Just Jump! I’ll explain later. Millenial : Ok, but after you sir.

Ilustrasi diatas diceritakan seorang teman CEO sebuah start-up lokal saat curhat mengenai karyawan-karyawannya yang sebagian besar Millenial. Beda dengan generasi X yang selalu siap perintah, generasi Millenial lebih kritis dan selalu minta contoh dari leadernya.

Bagi generasi X yang saat ini banyak memimpin perusahaan, bekerja dengan generasi Millenial membutuhkan kesabaran dan pengertian yang lebih. Stereotipe mereka adalah kritis tapi malas, lebih mementingkan diri sendiri, narsis, tidak loyal, baperan, dan banyak lagi lainnya. Kalau dihitung, lebih banyak negatif daripada positifnya.

Tapi, itu kan stereotype. Pandangan yang dibuat oleh generasi sebelumnya memang selalu dipenuhi apriori. Seperti dulu Gen-X juga dituduh berbagai hal negatif oleh Baby Boomers.

Kita semua paham bahwa beda generasi punya cara berpikir yang berbeda pula. Banyak orang yang punya stereotipe negatif tentang generasi Millenial. Padahal seringkali hal itu belum tentu benar, kita hanya terlalu prematur menuduh generasi yang baru.

Nyatanya, beberapa stereotipe yang melekat pada mereka sebenarnya justru akan membantu pekerjaan Public Relations (PR). Karena itu selain start-up, Millenial juga banyak bekerja di Agency PR. Mengapa Millenial klop bekerja di PR Agency dan berguna untuk membantu project klien-kliennya? Berikut sedikit faktanya :

1. Gampang Terdistraksi = Bisa menjelaskan hal rumit dengan sederhana dan singkat

Mereka adalah generasi yang punya “short attention spans” alias gampang terdistraksi. Kelemahan ini bisa jadi berubah menjadi kelebihan bagi generasi instan ini. Untuk melakukan story pitching ke media misalnya, kita gak bisa bertele-tele. Harus cepat, singkat, padat. Karena media juga tak punya banyak waktu mendengarkan penjelasan kita panjang lebar. Millenial terbiasa membuat text dalam 140 karakter di Twitter. Jadi urusan merangkai cerita panjang menjadi lebih pendek, singkat dan sederhana sudah makanan sehari – hari bagi mereka.

2. Tidak bisa lepas dari gadget = Tahu bagaimana menggunakan semua platform sosial media. 

Mereka lahir saat internet seadng booming di Indonesia. Mereka adalah Digital Native, istilahnya. Saat keluar pertama kali di dunia, bayi Millenial sudah dikelilingi gadget dan internet. Paling tidak gadget ibunya.

Sehingga seiring mereka tumbuh besar, mereka sudah terpapar dengan teknologi digital, tahu bagaimana menggunakan berbagai platform social media dan apa perbedaannya masing-masing. Gunakan kelebihan mereka ini untuk memberikan rekomendasi untuk klien, sosial media apa yang tepat untuk mereka gunakan sebagai platform kampanye PR nya. Mereka tahu tren terkini, tahu siapa influencer yang harus diganteng untuk menyampaikan pesan perusahaan.

3. Lebih senang mengetik pesan daripada berbicara = Copywriter yang baik

Kalau generasi X dan sebelumnya lebih senang bertatap muka dan bicara langsung. Generasi Google ini lebih senang mengetik pesan alias texting. Bahkan meski dibatasi hanya 140 karakter mereka bisa menyampaikan pesannya. Jadi sebenarnya millennials adalah seorang Copywriter yang baik. Bagaimana mereka mengetik pesan dengan cepat dengan pesan utama yang singkat dan padat namun efektif.

Itu 3 contoh dari stereotype Millenial yang bisa dilihat dari sisi yang lebih positif. Kalau dicari lagi, mungkin bisa lebih banyak. Namun yang jelas, pemahaman generasi Millenial terhadap digital akan sangat membantu Agency PR menjalankan projek-projek klien yang menggunakan multiplatform.

Global Communication Report 2017 mengungkap bahwa kedepannya PR bukan sekedar media relations, tapi bagaimana menggunakan sosial media dan digital platform lainnya seperti website, blog, vlog, dll untuk menyampakan pesan perusahaan. Digital Story Telling, Social Media dan Sosial Listening akan jadi trend PR lima tahun kedepan. Klop dengan dengan Digital Native people ini.

Satu insight mereka yang menarik adalah para Millenial ingin berperan mengubah dunia menjadi lebih baik. Ini juga cocok dengan PR Agency. Saya selalu bilang ke tim Imogen PR yang sebagian besar Millenial, bahwa pekerjaannya ini berguna untuk masyarakat luas. Bahwa saat perusahaan datang ke kita, mereka pasti punya problem yang harus kita bantu cari solusinya. Millenial senang jika dianggap berperan penting dalam sebuah project client. Mereka percaya apa yang mereka lakukan adalah mengubah dunia agar menjadi lebih baik dari sebelumnya.

By : Suharjo Nugroho, Managing Director Imogen PR 

In partnership with : PR Firm Association of Indonesia (APPRI) and Public Relations Organization International (PROI)

]]>

Pin It on Pinterest