Beauty Editor Di tengah Tren Beauty Blogger

Serombongan perempuan muda nan cantik yang berdandan paripurna bergegas memasuki sebuah café premium terkemuka di Jakarta. Nampak perpaduan apik antara minidress dan aksesoris membalut tubuh mereka yang semampai diiringi suara heels dan lantai kayu yang saling beradu. Semuanya serba biru, senada dengan warna brand lifestyle ternama yang akan lauching di cafe itu.

Layaknya tentara yang akan pergi berperang, para Beauty Blogger itu mempersenjatai diri dengan clutch merk ternama di tangan kiri dan kamera mirrorless di tangan kanan. Tujuan mereka hanya satu; jangan sampai ada momen terlewat untuk dituliskan di blog mereka nanti.

Sementara mereka berbondong-bodong masuk sambil bercanda gurau, sekelompok kecil rombongan lain keluar dari ruangan. Usianya terlihat lebih dewasa, tak terlalu mencolok, berdiri dalam balutan terusan panjang biru dan mengepit Tote Bag. Mereka adalah para Beauty Editor dari media lifestyle terkemuka yang baru menyelesaikan tugas memenuhi undangan konferensi pers brand tersebut.

Beauty-blogging

Meski sedikit resah, para Beauty Editor ini setia menunggu tumpangan mereka yang telah mereka panggil melalui mobile app beberapa menit sebelumnya. Bagi mereka tidak ada waktu yang pantas dibuang, masih ada pekerjaan menuntut untuk diselesaikan di kantor sehingga mereka harus kembali sebelum menutup hari.

Gambaran diatas bukanlah hal baru diranah beauty event saat ini. Ada sebuah epidemik baru yang membuat brand makin mengakui keberadaan para blogger sebagai bagian dari media baru untuk memperkenalkan produk. Pertanyaan kemudian, apakah keberadaan para blogger ini akan mengubah total strategi Public Relations yang biasanya mengandalkan majalah dan para editornya sebagai referensi mode dan gaya?

Sudah sejak dulu, para pembaca dengan rajin membuka setiap halaman majalah untuk mengetahui tren kecantikan terbaru dan produk apa yang perlu dimiliki. Mereka membaca review produk yang diberikan majalah kesayangan sebelum berbelanja produk, isu kecantikan terbaru, sosok yang sedang naik daun, hingga prediksi tren kecantikan yang akan datang. Majalah dianggap sebagai referensi penting bagi pembacanya agar tetap trendi dan tidak ketinggalan mode. Di era kejayaan majalah, para blogger/influencer mungkin masih dipandang sebelah mata. Agak mustahil untuk membandingkan mereka dengan para Beauty Editor yang dianggap memiliki pengaruh yang sangat besar dalam muncul atau tenggelamnya sebuah tren hanya melalui “goresan tangan” mereka.

Namun tak disangka, masuknya tren media sosial melahirkan para generasi digital natives yang bukan hanya rajin membuat konten, namun juga membangun audiens mereka dengan sangat baik hingga ribuan bahkan ratusan ribu follower. Tren Facebook yang diikuti Twitter, kemudian Instagram dan Snapchat membangun sosok-sosok pecinta dunia beauty yang approachable, unik, dan cukup relevan bahkan menjadi referensi para pengikutnya mengenai gaya hidup dan tren kecantikan terbaru.

Wajah cantik, rajin tampil di media sosial, dan seolah selalu mengikuti tren terbaru membuat para pecinta mode dan kecantikan ini memiliki fans setia yang selalu ingin mengetahui apa yang mereka lakukan, minat mereka, termasuk apa yang mereka gunakan sehari hari. Celah inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk membangun branding mereka sebagai personal story teller melalui media sosial dan blog.

Di Indonesia sosok-sosok blogger seperti ini juga dengan subur bermunculan dan merebut perhatian para pengguna media sosial. Lizzie Parra atau Sasyachi adalah beberapa beauty blogger Indonesia yang sudah mencapai level premium dan mulai merambah bisnis kecantikan, bahkan mengembangkan media mereka sendiri, misal Sasyachi dengan Facetofeet.com.

Karen Robinovitz, co-founder dari Digital Brand Architects pernah berkata “Dollars always follow eyeballs. If eyeballs are going to live online that’s where all the dollars will go”. Dengan online mengambil alih mata audiens dari media konvensional, keberadaan majalah dan kepraktisannya dalam menyediakan informasi dipertanyakan oleh konsumen produk kecantikan. Eksistensi majalah pun seakan tergantikan dengan meningkatnya relevansi para blogger.

Kredibilitas blogger semakin terlihat dari dimana para konsumer mencari informasi. Trafik blog yang terus meningkat dan pengikut di media sosial yang bertambah secara langsung menjadikan blogger dan para influencer dianggap memiliki kredibilitas yang bisa diandalkan. Follower dari para blogger/influencer percaya dengan konten yang diterbitkan, bahkan walaupun label endorsement dan sponsor menunjukkan konten tersebut bukan asli oleh si blogger atau merupakan konten berbayar, suara sang blogger sepertinya masih cukup “jernih” untuk diterima oleh para follower mereka sebagai saran pribadi.

Namun, walaupun relevansi para Beauty Blogger ini semakin besar, bukan berarti majalah benar-benar kehilangan audiens dan pengaruhnya. Bicara tentang brand, content is still the king! dan hal inilah yang membuat para Beauty Editor masih percaya diri ditengah menjamurnya para Beauty Blogger. Belum banyak blogger yang mampu membangun story telling yang organik mengenai brand yang mereka sponsor.

Ada studi kasus menarik dari salah satu brand kecantikan yang melakukan promosi produk baru mereka. PR strateginya adalah melakukan engagement dengan beberapa blogger. Sayang, kolaborasi tersebut berakhir kekecewaan dari pihak brand karena para blogger yang dibayar mahal ini hanya bisa mendongkrak jumlah likes, namun tidak pada penjualan produk.

Selain itu, ada kisah lainnya dari salah satu brand pasta gigi yang ingin menggandeng para blogger untuk event launching produk baru mereka, yang justru mengecewakan karena kurangnya liputan media mainstream mengenai event tersebut.

Bahkan walaupun menggunakan fitur tambahan seperti viral video, identitas brand masih tenggelam dengan persona si Beauty Blogger yang merupakan daya tarik utama bagi audiens. Promosi pun menjadi sia-sia, karena brand seolah menjadi pemeran pendukung dalam kisah yang mereka bangun. Hal ini membuat blogger khususnya di Indonesia belum banyak yang mampu mendongkrak penjualan dari brand yang mereka endorsed.

Hal yang kemudian disayangkan adalah, banyak brand yang seakan tersihir dengan pesona blogger dan kemudian membuat event dengan skala yang lebih besar untuk blogger daripada untuk media konvensional. Brand hanya membuat event gathering atau luncheon untuk Beauty Editor, sebaliknya malah membuat pesta bahkan high tea eksklusif untuk para blogger. Konsultan PR nya salah kaprah. Beauty Editor malah dianggap jauh lebih tidak penting dibandingkan Beauty Blogger.

HhjW6fVX

Padahal, para Beauty Editor akan selalu dikenal melalui tulisan mereka dan majalah yang mereka wakili. Latar belakang editorial mereka membuat mereka mampu membangun cerita mengenai brand secara lebih mendalam daripada Blogger. Nama majalah yang mereka bawa pun memberikan kredibilitas yang tinggi bagi para Editor ini, apalagi ketika mereka merupakan Editor dari majalah Beauty yang sudah mencapai level premium dan cukup tua, seperti Grazia, ELLE, Femina dan Cosmopolitan.

Tanpa bermaksud mendiskreditkan para Beauty Blogger, brand seharusnya mulai menyadari bahwa keberadaan para Beauty Editor ditengah Blogger sebenarnya untuk saling melengkapi. Perubahan tren penikmat informasi yang ikut mempengaruhi keberadaan media memang tidak bisa ditolak, tapi peran sebuah majalah tidak dengan mudah tergantikan oleh para Beauty Blogger yang datang dan pergi mengikuti tren saja.

Disisi lain, media majalah juga tidak dengan mudah menyerah dengan perkembangan zaman. Ketika tren online masuk dalam industri komunikasi, para majalah lifestyle dan kecantikan pun membangun platform online mereka. Membuat versi website dari majalah, mengembangkan sosial media, dan aktif melakukan engagement melalui forum-forum agar tetap mempertahankan loyalitas pembacanya dan merangkul para pembaca baru.

Beberapa majalah Beauty and Lifestyle pun cukup sukses membangun platform mereka di media sosial. Sebut saja Joy, Femina dan Elle Indonesia yang memiliki pengikut di media sosial Instagram yang cukup tinggi. Bahkan majalah Grazia Indonesia mencatat follower hingga 50,5k follower di Instagram. Majalah-majalah ini juga aktif melakukan engagement di media sosial mereka baik dalam bentuk kompetisi, ataupun membuka kesempatan untuk mengikuti event-event yang mereka selenggarakan. Engagement ini secara tidak langsung membangun kelompok pembaca yang loyal dan bahkan memperkuat posisi mereka untuk mengejar para pembaca baru.

Grazia Indonesia saat ini sedang melakukan kolaborasi dengan Tresemme Indonesia. Bukan hanya melalui editorial di majalah yaitu menampilkan kolom khusus Tresemme di Majalah dan menampilkan Velove Vexia di Cover Majalah Grazia, Grazia juga membangun storytelling melalui sosial media dan Website Grazia. Kolaborasi yang dinamakan Grazia X Tresemme ini sepertinya dilakukan menyambut Tressemme Fashion Runway yang akan dilaksanakan pada bulan Oktober. Kompetisi dibuat, Hair Challenge di Instagram dan Youtube. Grazia juga meluncurkan kampanye #Runwayselfie yang dipublikasikan di Instagram Grazia yang hingga pertengahan september menghasilkan lebih dari 2.500 tagar “Runway Selfie”

Screen Shot 2016-08-31 at 8.18.11 AM

Kolaborasi Grazia dan Tresemme menunjukkan majalah Beauty and Lifestyle masih menjadi media yang kuat bagi brand untuk menjadi mitra dalam pengenalan produk maupun kampanye. Bahkan, majalah memiliki channel yang lebih banyak untuk meningkatkan engagement konsumen, yaitu via majalah cetak, sosial media, dan website. Para Beauty Editor majalah tentu saja memiliki andil yang besar dalam terjalinnya kolaborasi antara brand dan majalah yang mereka tangani.

Majalah memang terbukti mampu membangun loyalitas dan kecintaan konsumer melalui cerita dan visual. Disi lain para blogger juga efektif untuk membangun relevansi dan interaksi yang organik megenai brand tersebut. Jadi strategi PR untuk memadukan keduanya yang perlu selalu dibangun. Karena ketika kedua media ini digabungkan, keberadaan sebuah brand akan semakin diterima oleh konsumen dan tentu saja mempengaruhi keputusan pembelian mereka dimasa depan.

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

One thought on “Beauty Editor Di tengah Tren Beauty Blogger

  • September 28, 2016 at 5:44 am
    Permalink

    I’ll right away snatch your rss as I can’t find
    your email subscription link or newsletter service. Do you’ve any?
    Please let me understand so that I could subscribe. Thanks. http://yahoo.net

Comments are closed.

Pin It on Pinterest